Advertisement

Responsive Advertisement

Lupa Mengasah Kapak

 


Oleh: Dadan Saepudin, M.Pd.

 Suatu hari ada seorang pemuda yang akan menebang pohon di kebun milik bosnya. Sebelum berangkat, ia terlebih dahulu mempersiapkan alat-alat untuk menebang pohon salah satunya yaitu kapak. Pemuda itu, mengasah kapaknya terlebih dahulu, agar saat digunakan tidak mengalami kesulitan saat menebang pohon.

Hari pertama, pemuda itu dapat menebang 8  pohon. Karena tugas di hari pertama selesai, ia pun bergegas untuk melaporkan hasil pekerjaannya kepada bosnya.

 “Bos untuk hari ini, saya sudah menyelesaikan tugas dengan menebang 8 pohon,’’ kata pemuda itu. “Baik, hari ini kamu sudah menyelesaikan tugas dengan baik, dan besok pekerjaannnya dilanjutkan,” jawab bosnya.

 Mendengar  pesan dari bosnya, pemuda itu lantas pulang dan keesokan harinya ia kembali berangkat ke kebun milik bosnya.

 Di hari kedua, pemuda itu kembali mampu menebang 6 pohon, tidak seperti pada hari pertama. Ia pun begitu kelelahan menggunakan kapak andalannya. selepas selesai waktu bekerjanya, ia pun kembali mendatangi bosnya untuk melaporkan pekerjaan di hari keduanya.

 “Bos mohon maaf, hari kedua ini, saya mampu menebang 6 pohon tidak sesuai dengan target di hari pertama,” ucap pemuda itu. Mendengar perkataan karyawannya, ia menajwab dengan senyuman yang ditujukan kepada karyawannya. Kemudian ia pun berpesan, “Engga apa-apa, segitu juga sudah lumayan, jangan lupa besok kamu lanjutkan lagi,” ungkap bos kepada pemuda tersebut.

 Sang pemuda itupun kembali menyanggupi pekerjaan dari bosnya.

 Di hari ketiga, pagi-pagi ia sudah menyiapkan kembali perlengkapan untuk menebang pohon. Tibalah ia di kebun dan dengan semangat ia menebang pohon dengan kapak kesayangannya. Namun, di hari ketiga itu, ia hanya mampu menebang 3 tiga pohon saja walau dengan sekuat tenaga sudah ia kerahkan. Namun kapak kesayangannya tidak setajam di hari pertama dan kedua.

 Ia pun harus kembali melaporkan pekerjaannya kepada bosnya, dengan wajah kesal karena tidak dapat menebang pohon sesuai target. Setibanya di rumah bosnya, ia pun menemui bosnya lalu pemuda itu berkata, “Bos, tugas di hari ketiga ini, mohon maaf saya tidak bekerja sesuai target, hanya mampu menebang 3 pohon saja.”

 Mendengar ucapan dari pemuda tersebut, lalu bos itu menjawab, “Coba Nak, apa yang menyebabkan kamu tidak dapat menebang pohon seperti di hari pertama?” ucap bosnya.

 Lalu sejenak pemuda tersebut merenung, terlihat mencoba untuk mencari jawabannya. Tak lama beberapa menit, pemuda itu berkata, “Ya bos, saya baru ingat, kenapa saya tidak dapat menebang pohon seperti hari pertama, saya ternyata lupa mengasah kapak kesayangan saya itu.”

 Mendengar jawaban tersebut, bosnya tersenyum sambil berkata, “Nah, ternyata jawabannya sudah kamu temukan, ya itu, barangkali kamu lupa mengasah kapakmu sehingga kapak itu tidak tajam seperti hari pertama kamu bekerja.”

 Dari cerita tersebut, ada pelajaran yang sangat penting bagi kita untuk selalu mengasah kemampuan (keterampilan) yang kita miliki. Jangan puas dengan apa yang sudah kita dapatkan, namun selalu belajar untuk terus meningkatkan kamampuan kita.

 Sebagai contoh misalnya, seorang guru yang selalu meningkatkan kompetensinya. Ia tidak larut dengan apa yang sudah dikuasainya. Namun, ia terus meningkatkan kompetensinya melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan, workshop, meningkatkan literasi melalui perpustakaan pribadi, dan kegiatan lainnya.

Saya dulu pernah berbincang-bincang dengan salah seorang ahli seni di bidang kaligrafi, ia kerap mengikuti kegiatan lomba kaligrafi. Menurutnya, mengikuti lomba kaligrafi bukan sekadar untuk mengejar prestasi, namun melalui perlombaan ia dapat mengetahui dan mempelajari perkembangan di bidang kaligrafi.

 Nah, ternyata teman saya itu secara tidak langsung belajar untuk meningkatkan kemampuannya di bidang kaligrafi  dengan melihat karya orang lain melalui perlombaan.

 Atas dasar itu,  mengasah kemampuan yang dimiliki merupakan hal penting untuk kita lakukan. Penulis akhiri tulisan ini dengan sebuah pantun:

 Pisau di dapur haruslah diasah

Supaya tajam dan jadi kuat

Belajar harus tanpa kenal lelah

Agar dapat ilmu yang bermanfaat.

 

Penulis Ketum PGMNI Kab. Bandung Barat dan Guru di MTs KPM Sindangkerta.

Posting Komentar

0 Komentar